updatekawanua.com/, Manado – Kesabaran warga Winangun Satu, Lingkungan 6, Jambore, Kota Manado, akhirnya mencapai titik nadir. Pada Jumat (30/1/2026), aliran air bersih dari PDAM Wanua Wenang kembali mati total tanpa pemberitahuan apa pun. Peristiwa ini bukan lagi sekadar gangguan teknis, melainkan cermin nyata buruknya layanan publik yang berulang dan terkesan dibiarkan tanpa solusi.
Situasi kian ironis karena air mati tepat di tengah agenda ibadah penting warga, mulai dari ibadah syukuran ulang tahun hingga ibadah kolom. Akibatnya, aktivitas rumah tangga lumpuh total. Warga tak dapat mandi, memasak, mencuci, bahkan memenuhi kebutuhan sanitasi paling dasar. Air bersih—hak fundamental setiap warga—justru berubah menjadi barang langka di tengah ibu kota provinsi.
Penelusuran media ini di kawasan Jambore Winangun mengungkap bahwa persoalan air mati bukan kejadian sesaat. Warga mengaku gangguan aliran PDAM sudah berlangsung lama dan berulang, sering terjadi mendadak tanpa pemberitahuan, tanpa penjelasan, dan tanpa pertanggungjawaban dari pihak pengelola.
“Kami mau ibadah, mau terima tamu, bahkan ke kamar mandi saja susah. Air itu kebutuhan paling dasar, tapi di sini rasanya seperti barang mewah,” keluh Rivo, warga setempat, dengan nada kesal.
Keluhan serupa disampaikan Emol, warga Jambore lainnya, yang menilai kondisi ini sudah jauh melampaui batas kewajaran.
“Hari ini kami mau syukuran ulang tahun anak. Semua bahan masakan sudah siap, tapi air mati. Kami mau masak pakai air dari mana? Mau cuci alat dapur pakai apa? Siang tamu ibadah datang, mau ke toilet bagaimana? Ini bukan soal nyaman atau tidak, ini soal martabat hidup. Pelayanan PDAM di sini nol besar. Jangan salahkan warga kalau marah,” tegasnya.
Sejumlah aktivis di Sulawesi Utara menilai persoalan ini sebagai bentuk kegagalan manajemen dan kelalaian struktural, bukan semata-mata persoalan teknis seperti pipa bocor atau mesin rusak.
“Kalau di kota seperti Manado warga masih kesulitan mendapatkan air bersih, lalu apa fungsi PDAM? Ini bukan daerah terpencil, ini ibu kota provinsi,” ujar salah satu aktivis.
Mereka mendesak Wali Kota Manado dan Gubernur Sulawesi Utara untuk tidak tinggal diam dan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PDAM Wanua Wenang.
“Jika manajemen tidak mampu menjamin hak paling dasar warga, jangan dipertahankan. Copot atau ganti saja Direktur PDAM. Negara tidak boleh absen ketika rakyat dipaksa hidup tanpa air,” tandasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PDAM Wanua Wenang terkait penyebab gangguan maupun kepastian pemulihan layanan. Warga menegaskan, apabila kondisi ini terus dibiarkan, aksi protes terbuka sebagai bentuk perlawanan publik sangat mungkin terjadi.(*RS)








