Minahasa,Updatekawanua,com
Miinahasa,Updatekawanua,comSuasana penuh kekhidmatan terasa di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tondano saat sebuah program pembinaan rohani resmi dimulai. Lapas yang terus berkomitmen membina kepribadian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) ini meluncurkan program Sekolah Alkitab, hasil kolaborasi dengan Laskar Narapidana Mandiri (Laskar Napiri).
Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Lapas Tondano pada Rabu (25/3) tersebut turut dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha dan Umum (Kabag TUM) Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Utara, Yulius Paath. Ia hadir mewakili Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulut sekaligus memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program pembinaan berbasis spiritual tersebut.
Kepala Lapas Kelas IIB Tondano, Akhmad Sobirin, menjelaskan bahwa Sekolah Alkitab merupakan bagian dari upaya pembinaan kepribadian yang bertujuan memperkuat mental dan spiritual para warga binaan. Menurutnya, pembinaan rohani menjadi aspek penting dalam proses perubahan diri para WBP selama menjalani masa pembinaan.
“Program ini diharapkan mampu membentuk karakter yang lebih baik, memperkuat nilai-nilai moral, serta menumbuhkan kesadaran spiritual bagi warga binaan agar siap kembali ke masyarakat,” ujar Sobirin.
Apresiasi juga disampaikan oleh Kabag TUM Yulius Paath. Ia menilai langkah Lapas Tondano menghadirkan program pembinaan rohani merupakan inisiatif positif yang perlu terus didukung. Melalui kegiatan seperti Sekolah Alkitab, para warga binaan diharapkan dapat memperdalam iman sekaligus mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Sementara itu, Ketua Laskar Napiri, Alfa Kaliey, mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan dan kerja sama yang terjalin dengan Lapas Tondano. Ia berharap program Sekolah Alkitab dapat berjalan secara berkelanjutan sehingga menjadi wadah pembinaan spiritual yang konsisten bagi warga binaan.
Melalui program ini, Lapas Kelas IIB Tondano kembali menegaskan perannya bukan hanya sebagai tempat menjalani masa pidana, tetapi juga sebagai lembaga pembinaan yang berfokus pada pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, serta persiapan warga binaan agar mampu kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan produktif.
(JR)

