Updatekawanua.com, MINAHASA – Gelombang penolakan datang dari masyarakat Koha Raya terhadap aktivitas pembukaan lahan di kawasan Gunung Tatawiran yang berada di perbatasan Desa Koha Selatan dan Desa Agotey, Sabtu (18/4/2026). Aksi tersebut dilakukan warga dari empat desa di wilayah Koha Raya, yakni Desa Koha Timur, Koha Barat, Koha Selatan, dan Koha Induk, serta mendapat dukungan warga Desa Tateli.
Penolakan warga dipicu berubahnya kondisi sumber air bersih yang selama ini digunakan masyarakat. Air yang biasanya jernih kini berubah warna menjadi cokelat, sehingga memunculkan keresahan di tengah warga.
Diketahui, aktivitas di kawasan Gunung Tatawiran dilakukan untuk rencana pembangunan lokasi wisata paralayang. Namun masyarakat menilai kegiatan tersebut berpotensi merusak lingkungan dan berdampak langsung terhadap kebutuhan dasar warga.
Salah satu warga secara tegas meminta agar seluruh pekerjaan segera dihentikan.
“Kami minta pekerjaan ini dihentikan, karena air bersih yang sering kami konsumsi sudah menjadi cokelat,” ujar warga di lokasi aksi.
Setelah dilakukan komunikasi melalui sambungan WhatsApp dengan pihak pengelola, Wenny Lumentut, akhirnya disepakati penghentian sementara seluruh pekerjaan. Selain itu, pertemuan bersama masyarakat dan instansi terkait dijadwalkan berlangsung pada Jumat mendatang.
“Sekarang pekerjaan sudah dihentikan. Hari Jumat nanti kita adakan pertemuan untuk membahas permintaan warga. Kalau memang kegiatan tersebut berdampak buruk bagi masyarakat, saya siap hentikan dan tidak akan melanjutkan pekerjaan,” ujar WL.
Tokoh masyarakat Koha Raya, Jefry Meikel Langi, menjelaskan bahwa warga awalnya tidak mengetahui adanya aktivitas di kawasan Gunung Tatawiran. Namun setelah air berubah warna, masyarakat mulai menelusuri penyebabnya.
“Kami awalnya tidak mengetahui kalau ada kegiatan di Gunung Tatawiran ini. Tapi semenjak air berubah warna menjadi cokelat dan kami periksa penyebabnya, ternyata karena ada pembongkaran lahan,” jelas Langi.
Selain persoalan air bersih, warga juga mengkhawatirkan potensi bencana alam seperti banjir bandang apabila pembukaan lahan terus dilakukan.
“Kekhawatiran kami bukan hanya soal air bersih, tapi bila nanti terjadi banjir bandang, masyarakat Koha Raya yang akan kena imbas. Bahkan Desa Tateli, Bulo dan Kalasey juga bisa terdampak. Saya mewakili masyarakat hanya satu kata: STOP,” tegasnya disambut dukungan warga.
Sebagai bentuk keseriusan penghentian kegiatan, warga juga meminta alat berat yang masih berada di lokasi segera diturunkan dari kawasan Gunung Tatawiran. Permintaan tersebut disetujui pihak pengelola.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut Anggota DPRD Kabupaten Minahasa Franciscus J.P. Enoch, SH, Camat Mandolang Davidson Suluh, SSTP, MSi, Kapolsek Pineleng Sem Marthin, Hukum Tua Koha Selatan Fero Rumondor, SFils, Hukum Tua Agotey Arie Tulung, Hukum Tua Koha Timur Serliana Susana Longdong, serta sejumlah bakal calon Hukum Tua dari wilayah Koha Raya.(*Redaksi)

